iNews Padang – Bencana galodo atau banjir bandang yang kerap terjadi di Sumatera Barat kembali menjadi perhatian para ahli. Ahli geologi mendorong pemerintah daerah untuk segera menyusun dan menerapkan strategi jangka panjang guna mencegah terulangnya galodo yang terus mengancam keselamatan warga dan merusak lingkungan.
Menurut para pakar, pendekatan penanganan galodo tidak bisa lagi bersifat reaktif, melainkan harus berbasis mitigasi menyeluruh dan berkelanjutan.
Galodo Bukan Sekadar Banjir Biasa
Ahli geologi menegaskan bahwa galodo berbeda dengan banjir biasa. Galodo membawa material besar seperti batu, kayu, dan lumpur dari hulu sungai akibat longsoran lereng dan rusaknya daerah tangkapan air.
Kondisi topografi Sumatera Barat yang didominasi pegunungan, lembah curam, serta aliran sungai pendek dan deras membuat wilayah ini sangat rentan terhadap galodo, terutama saat curah hujan tinggi.
Kerusakan Lingkungan Jadi Faktor Utama
Salah satu penyebab utama galodo berulang adalah kerusakan lingkungan di kawasan hulu, termasuk pembukaan lahan yang tidak terkendali, penebangan hutan, serta aktivitas pertambangan dan perkebunan yang mengabaikan kaidah konservasi.
Kerusakan vegetasi menyebabkan tanah kehilangan daya ikat, sehingga mudah longsor dan terbawa arus sungai saat hujan lebat.
Perlunya Penataan Daerah Aliran Sungai (DAS)
Ahli geologi menilai penataan Daerah Aliran Sungai (DAS) harus menjadi prioritas utama. Langkah ini mencakup rehabilitasi hutan, pengendalian erosi, serta pembatasan aktivitas manusia di kawasan rawan longsor dan alur sungai.
Penataan DAS dinilai lebih efektif dalam jangka panjang dibandingkan sekadar pembangunan infrastruktur darurat setelah bencana terjadi.

Baca juga: Jelang Nataru, Harga Cabai dan Bawang di Pasar Raya Padang Turun Signifikan
Infrastruktur Pengendali Galodo Harus Terintegrasi
Selain pendekatan ekologis, ahli juga mendorong pembangunan infrastruktur pengendali galodo yang terintegrasi, seperti sabo dam, check dam, dan tanggul pengarah aliran material banjir bandang.
Namun, pembangunan infrastruktur tersebut harus didukung kajian geologi dan hidrologi yang matang agar tidak menimbulkan dampak baru bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.
Tata Ruang Jadi Kunci Pencegahan
Ahli geologi mengingatkan pentingnya penegakan tata ruang di Sumatera Barat. Banyak kawasan permukiman berada di zona rawan galodo, terutama di sepanjang bantaran sungai dan kaki bukit.
Tanpa penataan ruang yang tegas, risiko korban jiwa dan kerugian material akan terus meningkat setiap kali bencana terjadi.
Edukasi dan Kesiapsiagaan Masyarakat
Strategi jangka panjang juga harus menyentuh aspek edukasi kebencanaan. Masyarakat perlu memahami tanda-tanda awal galodo, jalur evakuasi, serta langkah penyelamatan diri saat hujan ekstrem terjadi.
Kesiapsiagaan warga dinilai dapat mengurangi dampak fatal, terutama di daerah yang sulit dijangkau bantuan saat bencana melanda.
Sistem Peringatan Dini Perlu Diperkuat
Ahli geologi mendorong penguatan sistem peringatan dini berbasis curah hujan, pergerakan tanah, dan debit sungai. Pemanfaatan teknologi dan kolaborasi lintas lembaga menjadi kunci agar peringatan bisa diterima masyarakat secara cepat dan akurat.
Sistem peringatan dini yang efektif dinilai mampu menyelamatkan banyak nyawa.
Pemerintah Diminta Konsisten dan Berkelanjutan
Para ahli menekankan bahwa upaya pencegahan galodo membutuhkan komitmen jangka panjang dari pemerintah, bukan program sesaat yang hanya muncul setelah bencana besar.
Konsistensi kebijakan, pengawasan lapangan, serta sinergi antara pemerintah pusat, daerah, akademisi, dan masyarakat menjadi fondasi utama dalam mengurangi risiko galodo di Sumatera Barat.
Harapan Sumatera Barat Lebih Tangguh Bencana
Dengan strategi yang tepat dan berkelanjutan, Sumatera Barat diharapkan dapat menjadi wilayah yang lebih tangguh terhadap bencana galodo. Pencegahan yang dilakukan sejak hulu hingga hilir dinilai mampu meminimalkan korban jiwa serta kerugian ekonomi dan sosial di masa mendatang.
Para ahli berharap rekomendasi ini segera ditindaklanjuti agar tragedi galodo tidak terus berulang dari tahun ke tahun.






